Pertama di Indonesia, Fregat KRI Balaputradewa 322 Pakai Hull Mounted Sonar Fersah Buatan Aselsan
Di balik lambungnya yang kokoh, terdapat sistem sensor bawah air yang sangat vital, yakni Fersah, sebuah Hull Mounted Sonar (HMS) canggih buatan Aselsan.
Banyak yang bertanya-tanya mengenai status pengadaan sensor ini. Berdasarkan informasi terkini, pengadaan sonar Fersah untuk KRI Balaputradewa 322 telah resmi masuk dalam fase kontrak. Kesepakatan ini merupakan bagian dari paket integrasi sistem sensor dan senjata yang ditandatangani antara pihak Indonesia (PT.PAL) dan konsorsium perusahaan Turki pada pertengahan tahun 2025.
PT.PAL Indonesia secara resmi menandatangani kontrak pengadaan peralatan Fitted For But Not With (FFBNW) pada 11 Juni 2025. Dalam kontrak ini, sistem manajemen tempur Advent CMS dari Havelsan dipilih sebagai “otak” kapal, di mana sonar Fersah merupakan bagian dari sensor bawah air yang wajib terintegrasi di dalamnya.
Dengan status di atas Fersah bukan lagi sekadar wacana, melainkan komponen baku yang akan terintegrasi penuh saat kapal memasuki tahap pengujian laut (Sea Acceptance Test).
Fersah dirancang sebagai sistem sonar pencari dan pelacak kapal selam yang bekerja pada frekuensi menengah (mid-frequency). Teknologi ini menjadi jawaban atas kebutuhan peperangan anti-kapal selam (ASW) modern yang semakin kompleks.
Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuan operasional ganda. Dalam mode aktif, Fersah bekerja pada frekuensi 6,7 hingga 8,4 kHz, yang memungkinkannya mendeteksi target bawah air pada jarak yang jauh dengan akurasi tinggi. Sementara dalam mode pasif, Fersah mampu memantau spektrum frekuensi yang lebih luas (3 hingga 12 kHz) untuk mendeteksi suara mesin atau baling-baling kapal lawan tanpa membocorkan posisi kapal sendiri.
Secara spesifikasi, Fersah mampu melacak hingga 32 target sekaligus dalam mode aktif. Tidak hanya itu, sistem ini dilengkapi dengan fitur Mine Like Object Avoidance (MAS) dengan cakupan horizontal 90 derajat. Fitur ini memungkinkan KRI Balaputradewa 322 untuk mendeteksi objek berbahaya seperti ranjau laut di jalur pelayarannya, memberikan perlindungan ekstra saat bermanuver di perairan dangkal atau selat yang sempit.
Yang membuat kehadiran Fersah di KRI Balaputradewa 322 semakin mematikan adalah integrasinya dengan sistem manajemen tempur – Combat Management System (Advent CMS) dan sistem peluncur torpedo. Sebagai sebuah sistem yang “berbicara” dalam bahasa data yang sama, Fersah akan mengirimkan data posisi, kedalaman, dan kecepatan target secara real-time ke pusat komando di anjungan.
Begitu target terkunci oleh sonar Fersah, data tersebut langsung diproses oleh sistem pengontrol senjata untuk menentukan solusi penembakan torpedo.
KRI Balaputradewa 322 dikabarkan akan mengusung peluncur torpedo ringan (LWT) yang kompatibel dengan standar NATO maupun produk Turki seperti Orka buatan Roketsan. Sinergi antara “telinga” Fersah dan “taring” torpedo ini memastikan bahwa KRI Balaputradewa 322 memiliki respon serangan yang sangat cepat—hanya dalam hitungan detik setelah ancaman terdeteksi di bawah permukaan.
Indonesia tidak memilih Fersah tanpa alasan. Sistem ini telah membuktikan keandalannya di Angkatan Laut Turki. Fersah merupakan sensor standar pada Fregat Istanbul class (I-Class), termasuk TCG Istanbul (F-515) yang sudah operasional.
Selain itu, keandalan Fersah juga diakui melalui program modernisasi fregat kelas Barbaros (MEKO 200 TN). Keberhasilan Fersah menggantikan sistem sonar buatan Amerika Serikat pada kapal-kapal Turki tersebut menjadi bukti bahwa teknologi Aselsan ini memiliki performa yang setara, bahkan lebih unggul dalam beberapa aspek digitalisasi, dibandingkan sistem sonar Barat. (red)