Athaya Helmi Nasution Mahasiswa meninggal Dunia Usai Dampingi Pejabat RI di Wina
tabir87news.co.id || Jakarta -- PERHIMPUNAN Pelajar Indonesia di Belanda merilis soal mahasiswa RI Athaya Helmi meninggal usai mendampingi pejabat di Wina. Dalam pernyataan sikap yang diterima tabir87news, PPI Belanda mengumumkan bahwa mahasiswa bernama lengkap Muhammad Athaya Helmi Nasution, yang merupakan anggota PPI Groningen, tutup usia setelah mendampingi kunjungan tertutup yang melibatkan Pejabat Publik di Wina Austria. Ia mendampinggi sejumlah pejabat yaitu Dewan Perwakilan Rakyat RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK)dan Bank Indonesia (BI) pada 25-27 Agustus 2025.
"Almarhum yang baru akan menginjak 19 tahun pada bulan Oktober mendatang meninggal dunia di tengah pengabdiannya sebagai pelajar," kata Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda dalam keterangan tertulisnya, Senin, 8 September 2025.
Menurut PPI Belanda, tidak ada upaya dari pihak EO, koordinator LO, maupun pejabat publik yang hadir untuk menemui keluarga. Pihak keluarga juga menyampaikan adanya indikasi menutup-nutupi kegiatan yang dipandu almarhum di Wina dari pihak EO.
Oleh sebab itu, PPI Belanda menyatakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam memfasilitasi kunjungan pejabat publik di luar negeri berpotensi menempatkan mereka pada situasi yang tidak aman dan penuh resiko. PPI Belanda juga menolak keras segala bentuk permintaan maupun praktik pemfasilitasan perjalanan dinas pejabat publik oleh mahasiswa jika dilakukan tanpa kontrak resmi, perlindungan hukum, dan mekanisme yang jelas.
Mereka juga menghimbau seluruh mahasiswa Indonesia di Belanda agar tidak menerima tawaran untuk memfasilitasi perjalanan pejabat publik, terutama yang datang melalui jalur pribadi atau jaringan pertemanan. PPI Belanda mendorong agar setiap kegiatan untuk mendampingi para pejabat dilaporkan kepada PPI Belanda mendorong agar setiap kegiatan untuk mendampingi para pejabat dilaporkan kepada PPI Belanda, baik melalui sosial media atau menghubungi pengurus PPI.
"Kami juga menuntut akuntabilitas, transparansi, dan pertanggungjawaban dari pihak EO, koordinator Liaison Officer harus segera merespons peristiwa meninggalnya almarhum," kata PPI Belanda. Mereka juga meminta akuntabilitas dari KBRI Den Haag serta KBRI di berbagai negara lainnya untuk menghentikan pelibatan mahasiswa dalam kunjungan atau perjalanan pejabat
publik di luar negeri tanpa koordinasi resmi dengan PPI.
Mereka menegaskan KBRI seharusnya memberikan perlindungan dan keamanan untuk setiap WNI, termasuk pelajar Indonesia di Belanda. "Kami meminta kerja sama PPI di seluruh dunia untuk meningkatkan kewaspadaan dan mencegah keterlibatan mahasiswa dalam praktik serupa, agar tidak ada lagi korban di kemudian hari," katanya. (red)